Thursday, May 28, 2009

Penghalang-Penghalang dalam Menuntut Ilmu

Ilmu adalah cahaya yang dikurniakan Allah kepada manusia. Tidak diragukan lagi kedudukan orang yang berilmu di sisi Allah adalah lebih tinggi beberapa darjat. Hanya orang-orang yang berilmu & berakal dapat memahami kebesaran Allah melalui penciptaan alam semesta beserta segala isinya.

Demikian mulia kedudukan orang yang berilmu sehingga Rasulullah meriwayatkan dalam sebuah hadis :

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu maka Allah mudahkan jalannya menuju syurga. Sesungguhnya malaikat akan membuka sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena redha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohon ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar, tidak juga dirham, Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bahagian yang paling banyak. (1)

Siapa kah orang yang tidak mahu di doakan oleh malaikat dan makhluk-makhluk Allah yang ada di bumi?? Sungguh hal tersebut adalah suatu kemuliaan yang besar.

Seperti kata pepatah “No pain, no gain” (tidak ada yang akan kita dapat tanpa pengorbanan) , maka untuk mencapai kemuliaan yang bernama ilmu itu pasti ada ujian yang harus kita hadapi..

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menghalang kemuliaan ilmu kepada seseorang :

1. Niat yang rosak

Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu rosak maka rosaklah seluruh amalannya. Sebagaimana sabda Rasulullah

“Amal itu bergantung pada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkan…” (2)

Imam Malik bin Dinar (wafat th.130 H) rahimahullah mengatakan,”Barangsiapa mencari ilmu bukan kerana Allah Ta’ala maka ilmu itu akan menolaknya hingga ia dicari hanya karena Allah.”

2. Ingin Terkenal dan Ingin Tampil

Cuba kita ingat mungkin terkadang saat kita belajar terdetik di hati kita “Supaya jadi rangking 1 atau jadi juara umum dan dikenali orang?? Ya, ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronik. Tidak seorang pun yang terlepas darinya kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhana Wa Ta’ala. Hal itu lebih dikenal dengan sebutan riya. Rasulullah sangat khuwatir adanya penykit ini pada umatnya. Karena seringkali penyakit itu halus hingga muncul tanpa kita sedari, hingga Rasulullah mengibaratkan bahawa penyakit riya itu seperti semut hitam, di batu hitam pada malam yang gelap. Bayangkan, hampir tak kelihatan kan??

So, be careful…

Rasulullah bersabda,

”….sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah kesyirikan dan syahwat tersembunyi.” (3)

Mahmud bin Ar-Rabi berkata : “syahwat yang tersembunyi maksudnya adalah seseorang ingin / senang apabila kebaikannya dipuji oleh orang lain. Kita perlu behati-hati terhadap penyakit ini, kerana Allah memperingatkan dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah Salallahu’alaihi Wassallam :

“Barangsiapa yang menyiarkan amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya. Dan barangsiapa yang beramal kerana riya maka Allah akan membuka niatnya di hadapan manusia pada hari kiamat.” (4)
Naudzubillahi mindzalik.

3. Lalai Menghadiri Majlis Ilmu

Jika kita tidak memanfaatkan majlis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, nescaya kita akan menggigit jari sepenuh penyesalan. Kalau kebaikan yang ada di majlis ilmu hanya berupa ketenangan dan rahmat Allah yang meliputi mereka, maka dua alasan itu saja seharusnya sudah cukup sebagai pendorong untuk menghadirinya. Apalagi jika seseorang mengetahui bahawa orang yang menghadiri majlis ilmu –insyaAllah- mendapatkan dua keuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat!

4. Beralasan dengan kesibukan

Alasan ini seringkali dijadikan syaitan sebagai alasan menjadi penghalang dalam menuntut ilmu. Cuba kira, Allah memberikan kita 24 jam, 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk rehat, masih ada 8 jam lagi… apa yang selama ini telah kita lakukan untuk memanfaatkan sisa waktu itu???

5. Menyia-nyiakan kesempatan belajar di waktu kecil.

Allah Ta’ala berfirman :

”Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya kematian.”(QS.Al-Hijr : 99)

Kerana itu, mari kita semua para remaja, sama ada orang tua, lelaki mahupun wanita, kita bertaubat pada Allah Ta’ala atas apa yang telah luput dan berlalu. Sekarang, kita mulai menuntut ilmu, menghadiri majlis ta’lim, belajar dengan benar dan sungguh-sungguh dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.

Ketika ditanya pada Imam Ahmad, ”Sampai bilakah seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau pun menjawab ”sampai meninggal dunia.”

6. Bosan dalam menuntut ilmu

Diantara penghalang menuntut ilmu adalah merasa bosan dan memberi alasan dengan berkonsentrasi mengikuti peristiwa yang sedang terjadi. Ilmu yang kita cari seharusnya mendorong kita untuk mengetahui keadaan kita sendiri. Kita tidak akan boleh mengatasi berbagai masalah dan musibah yang menimpa kecuali dengan meletakkannya pada timbangan syariat. Seorang penyair mengatakan : ” Syariat adalah timbangan semua permasalahan dan saksi atas akar masalah dan pokoknya” (5)

Bosan itu adalah penyakit. Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan ada ubatnya. Tidaklah musibah terjadi melainkan ada penyelesaiannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh kerana itu, kita harus melawan rasa bosan yang terkadang timbul saat kita belajar. Belajarlah sehingga Anda mendapat nikmatnya ilmu.

7. Menilai Baik Diri Sendiri

Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang apabila mendengar orang lain memujinya.

Allah TA’ala berfirman :

”Maka janganlah kamu merasa dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32)

8. Tidak Mengamalkan Ilmu

Tidak Mengamalkan Ilmu merupakan salah satu sebab hilangnya keberkahan ilmu. Allah Ta’ala benar-benar mencela orang yang melakukan ini dalam firmanNya :

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan (QS.Ash-Shaff : 3)

9. Putus Asa dan Rendah Diri

Allah berfirman :

“Dan Allah mengeluarkankamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)

Putus Asa dan Rendah Diri adalah salah satu penghalang ilmu. Semua manusia diciptakan dalam keadaan sama yang tidak mengetahui sesuatu pun. Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghafal, lambat membaca atau cepat lupa.

Selain itu menjauhi maksiat adalah sebab paling utama dalam menguatkan hafalan dan memperoleh ilmu.

10. Terbiasa dengan tunda-tunda

Yusuf bin Asbath rahimahullah mengatakan :

”Muhammad bin samurah pernah menulis surat kepadaku sebagai berikut : ” Wahai saudaraku janganlah sifat menunda-nunda menguasai jiwamu dan tertanam di hatimu karena ia membuat lesu dan merosakkan hati. Ia memendekkan umur kita, sedangkan ajal segera tiba… Bangkitlah dari tidurmu dan sadarlah dari kelalaianmu! Ingatlah apa yang telah engkau kerjakan, engkau perlekehkan, engkau sia-siakan, engkau hasilkan dan apa yang telah engkau lakukan. Sungguh semua itu akan dicatat dan dihisab sehingga seolah-olah engkau terkejut dengannya dan engkau sadar dengan apa yang telah engkau lakukan, atau menyesali apa yang telah engkau sia-siakan.” (6)

11. Belajar daripada Ahlul Bid’ah

Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar daripada ahlul bid’ah karena ahlul bid’ah merasa redha terhadap sesuatu yang diselisih agama Allah, seolah-olah ia mengatakan bahawa Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah.

12. Tergesa-gesa ingin memetik buah ilmu.

Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya memperoleh ilmu, kerana belajar adalah proses seumur hidup. Terutama yang berkaitan dalam masalah agama tidak cukup dilakukan dalam waktu satu atau dua tahun belajar.

Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullah mengatakan,

”Ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan”

Imam Ibnu Madini rahimahullah mengatakan,

”Dikatakan kepada Imam As-Sya’bi ’Darimana Anda peroleh semua ilmu ini?’ Beliau menjawab,’Dengan tidak bergantung pada manusia, menjelajah berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan berpagi-pagi mencarinya seperti pagi-paginya burung gagak.”

Disarikan dari : Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pustaka At-Takwa : 1428 H)

Catatan Kaki:

Hadist Shahih, diriwayatkan oleh ahmad, abu Dawud, attirmidzi, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban [1]

hadist shahih riwayat Al-Bukhari [2]

hadist shahih riwayat Thabrani [3]

HR.Bukhari-shahih [4]

Ishlaahul Masaajid minal Bida’ wal Awaa’id hal.110, karya al-Allamah Muhammad bin Jamaluddin al-Qasimi rahimahullah [5]

dari Iqtida al-Ilmi al’amal [6]

source: jilbab online

Wednesday, May 27, 2009

Rasulullah SAW Seorang Suami Periang

Kebanyakan orang membayangkan bahawa baginda adalah seorang yang selalu serius, disiplin dan tegas, termasuk kepada isteri-isteri baginda. Sehingga ada yang merasa kasihan terhadap isteri-isteri baginda.
Tetapi hal yang sebenarnya Rasulullah SAW adalah orang yang paling lembut terhadap keluarganya dan seorang yang periang pada saat-saat gembira. Baginda sering bergurau dengan keluarga dan membuat mereka ketawa.
Ummul Mukminin Aisyah berkata : "Demi Allah aku melihat Rasulullah SAW berada di depan pintu kamarku, sedangkan orang Habsyah bermain di luar, Rasulullah SAW menutupi aku dengan serbannya agar aku dapat melihat permainan mereka, melalui celah antara telinga dan bahunya, sedangkan wajahku aku sandarkan kepada pipi Rasulullah SAW, kemudian baginda bertanya, "Wahai Aisyah sudah puaskah kamu (untuk melihat)?" Maka aku berkata: "Belum". Maka aku tetap di dalam posisi seperti itu sehingga aku merasa puas".
Dalam riwayat lain, "Baginda berdiri untukku sehingga aku sendiri yang menyudahi. Aku melihat kanak-kanak perempuan yang bersemangat sedang bermain".
Rasulullah SAW berwajah riang, bersenda gurau sehingga semua ahli keluarganya merasakan kenikmatan berkeluarga. Baginda sekeluarga menjalani kehidupan suami isteri yang aman dan bahagian agar tidak tegang yang lama-kelamaan akan menjemukan dan akhirnya menimbulkan kesusahan (penceraian).
Aisyah berkata: "Saya keluar bersama Rasulullah SAW di dalam suatu perjalanan. Ketika itu saya masih sangat muda dan kurus. Baginda bersabda kepada para sahabat, "Jalanlah dahulu!" Maka mereka pun mendahului kami. Kemudian baginda bersabda kepadaku, "Marilah kita berlumba lari dan saya akan berusaha megalahkanmu." Maka kami berlumba lari dan saya dapat mengalahkan baginda.
Selang beberapa lama kemudian tubuhku menjadi gemuk dan saya telah lupa peristiwa itu. Pada ketika itu, saya pergi berjalan bersama baginda, maka baginda bewrsabda kepada para sahabat, "Jalanlah dahulu!". Maka mereka pun mendahului kami. Baginda bersabda, "Mari kita berlumba dan aku akan mengalahkanmu". Waktu itu saya sudah lupa dengan peristiwa di masa lampau kerana say asudah gemuk. Say aberkata, "Bagaimana ak boleh mengalahkanmu ya Rasulullah kerana badan saya seperti ini?" Baginda bersabda, "Ayuhlah!" Maka kami berlumba dan baginda menang sehingga baginda tertawa dan bersabda. "Ini pembalasan terhadap kekalahanku di masa lalu".
Rasulullah SAW suatu ketika bersabda kepada Aisyah, "Sesungguhnya aku tahu, bila engkau redha terhadapku dan bila engkau benci terhadapku". Saya berkata: "Bagaimana engkau mengetahuinya ya Rasulullah?"
Baginda menjawab, "Adapun apabila engkau redha terhadapku, nescaya engkau akan mengatakan "Tidak, demi Rabb Muhammad dan apabila engkau marah kepadaku maka engkau berkata : "tidak, demi Rabb Ibrahim".
Maka Aisyah berkata: "Benar ya Rasulullah, demi Allah memang aku tidak menjauhimu melainkan namamu (apabila marah) sahaja".
Seorang ualamak berkata: "Ketahuilah bahawa akhlak yang baik terhadap isteri itu bukan sekadar mencegah agar tidak menyakitinya, akan tetapi termasuk juga sabar terhadap gangguan yang berpunca daripadanya dan bersifat lapang dada apabila dia marah.
Perkara ini wujud untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, yang mana pada suatu ketika isteri-isteri baginda berani membantah kepada baginda, ada di antaranya yang memboikot baginda selama sehari semalam. Dan juga suatu ketika isteri Umar membantah perkataan beliau. Berkatalah Umar, "Apakah engkau membantah diriku?" Maka isterinya menjawab, "Sesungguhnya isteri-isteri Rasulullah SAW pernah membantah baginda, sedangkan baginda lebih baik daripada engkau".
Maka apabila perkara-perkara tersebut ada pada diri Rasulullah SAW, penghulu bagi segala nabi, maka setiap lelaki hendaklah meneladani Rasulullah SAW yang suka beramah mesra dan bergurau pada waktu-waktu tertentu di dalam rumahnya, terlebih-lebih lagi kepada isterinya agar dapat menyenangkan ketegangan masalah hidup dan pekerjaan baginda.
Ini akan membantu untuk menguatkan ikatan cinta antara suami isteri. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada nabi kita, Rasulullah SAW.
(Disalin dari Buku Peranan Wanita Pada Zaman Rasulullah SAW yang disusun oleh Puan Amina Haji Noor-Kamilarini binti Kamalsha. Terbitan Al-Hidayah Publication)

Janganlah wanita menolak poligami

Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah disempurnakan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Nya, sehingga agama ini tidak perlu tambahan, pengurangan dan kotak-katik.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)
Di antara rahmat Allah -Ta’ala- kepada hamba hamba-Nya, disyari’atkannya “poligami” (seorang lelaki memiliki lebih dari satu isteri) berdasarkan dalil-dalil yang akan datang.
Namun bercakap masalah poligami akan mengundang berbagai tanggapan. Ada yang menganggapnya secara positif dan ini datangnya dari ulama’ dan kaum beriman. Tetapi, ada pula yang menganggapnya secara negatif, bahkan menentangnya dengan keras di antara segelintir orang dari kalangan orang-orang munafiq, dan orang-orang yang jahil dari kaum wanita dan laki-laki. Berbagai alasan dilontarkan untuk menolak poligami, entah dengan alasan kecemburuan, emosi, atau tidak siap dimadu, bahkan dengan alasan ketidakadilan.
Mungkin dengan dasar inilah, ada seorang penulis wanita (tidak sebutkan namanya) berusaha menentang, dan menzalimi “anugerah poligami” ini untuk membela kaum wanita -menurut sangkaannya-, padahal sebenarnya ia menzalimi kaum wanita. Maka dia pun menuangkan “pembelaannya” (baca: penzalimannya) tersebut dalam bentuk tulisan yang dimuat oleh surat khabar “Kompas”, edisi 11 Desember 2006, dengan judul, “Wabah itu Bernama Poligami”.
Sebuah judul yang memukau bagi orang-orang jahil, terlebih lagi orang-orang munafiq. Namun hal itu sangat berbahaya bagi imanannya, dan mengerikan bagi kaum beriman. Betapa tidak, dia telah berani menyebut poligami sebagai “wabah”, dan telah lancang berani menyebut syari’at yang Allah -Ta’ala- sendiri yang menurunkan-Nya sebagai “wabah”. Dia telah menghina, menentang dan mengingkari anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kalau wanita ini menganggap poligami adalah wabah, bererti dia telah menganggap bahawa Allah -Ta’ala- telah menurunkan wabah kepada para hamba-Nya,“Subhanallah wa -Ta’ala- ‘an qaulihim uluwwan kabiran !!!” Maha Suci, dan Maha Tinggi Allah atas apa yang mereka ucapkan.
Wanita untuk memuntahkan kebenciannya, dan penolakannya kepada syari’at poligami, maka ia pun tidak tanggung-tanggung membawakan hadits untuk menguatkan pendapatnya. Padahal hadits itu tidaklah menguatkan dirinya sedikitpun, bahkan menolak dengan kejahilannya: Wanita itu membawakan hadits, bahawa dilaporkan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- marah ketika beliau mendengar putrinya Fatimah akan di poligami suaminya, Ali bin Abi Thalib. Beliau bergegas menuju mesjid, naik mimbar dan menyampaikan pidato, “Keluarga Bani Hasim bin Al-Mughiroh telah meminta izinku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali Bin Abi Thalib saya tidak mengizinkan sama sekali kecuali Ali menceraikan putri Saya terlebih dahulu”. Kemudian Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melanjutkan, “Fatimah adalah bagian dari-ku. Apa yang memgganggu dia adalah menggangguku dan apa yang menyakiti dia adalah menyakitiku juga”. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib tetap monogami hingga Fatimah wafat.
Setelah membaca hadits diatas, mungkin kita akan menganggukkan kepala dan membenarkan wanita tersebut. Namun Saking “pandainya” wanita ini, ia lupa riwayat lain dalam Shohih Muslim (2449), “Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Tapi, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan putri musuh Allah selamanya”. Ertinya, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal, yaitu poligami. Selain itu, Syaikh Al-Adawiy dalam Fiqh Ta’addud Az-Zaujat (126) berkata, “Di antara kekhususan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, putrinya tidak boleh dimadu. Ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (9/329)”.
Perlu diketahui bahwa para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahkan Ali sendiri berpoligami setelah Fathimah wafat. Ali bin Rabi’ah berkata, “Dulu Ali memiliki dua isteri”. [HR. Ahmad dalam Fadho’il Ash-Shohabah (no.889)]. Ini menunjukkan bahwa poligami tetap diamalkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan bersifat kondisional !!
Lebih jauh lagi, Wanita itu mengomentar ayat berikut, وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)
Wanita ini berkata, “Ayat tersebut turun setelah perang Uhud, dimana banyak sahabat wafat di medan perang. Ayat ini memungkinkan lelaki muslim mengawini janda, atau anak yatim, jika dia yakin inilah cara melindungi kepentingan mereka, dan hartanya dengan penuh keadilan. Jadi, ayat ini bersifat kondisional”.
Yang menjadi pembahasan kita dalam perkataannya adalah bahwa ayat ini bersifat kondisional, padahal seandainya ayat ini bersifat kondisional, justru ayat ini sangat memungkinkan untuk diamalkan pada zaman sekarang, karena melihat perbandingan jumlah wanita jauh lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki. Oleh karena itu, poligami di saat sekarang ini mestinya lebih disemarakkan! Selain itu, para ulama membuat kaedah, “Barometer dalam menafsirkan ayat dilihat pada keumuman lafazhnya, bukan pada kekhususan sebab turunnya ayat tertentu”. Jadi, dilihat cakupan dan keumuman ayat di atas dan lainnya, maka mencakup semua lelaki yang memiliki kemampuan lahiriah.
Kemudian, dia pun mengomentari firman Allah berikut -layaknya sebagai ahli tafsir, padahal ia bukan termasuk darinya-, وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa`: 129)
Wanita ini berkata dengan congkak, “Ayat ini dapat disimpulkan, Islam pada dasarnya agama monogami”. Pembaca -semoga dirahmati Allah- beginilah apabila menafsirkan ayat dengan penafsiran sendiri, tanpa mau melihat bagaimana para ulama tafsir ketika menafsirkan ayat-ayat Allah. Ayat ini justru menunjukan disyari’atkannya poligami. Dengarkan para ahli tafsir ketika mereka menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129)
Ath-Thabariy -rahimahullah- berkata, “Kalian, wahai kaum lelaki, tak akan mampu menyamakan istri-istrimu dalam hal cinta di dalam hatimu sampai kalian berbuat adil di antara mereka dalam hal itu. Maka tidak di hati kalian rasa cinta kepada sebagiannya, kecuali ada sesuatu yang sama dengan madunya, karena hal itu kalian tidak mampu melakukannya, dan urusannya bukan kepada kalian”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (9/284)]
Syaikh Muhammad bin Nashir As-Sa’diy-rahimahullah- dalam menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129), “Allah -Ta’ala- mengabarkan bahwa suami tidak akan mampu. Bukanlah kesanggupan mereka berbuat adil secara sempurna di antara para istri, sebab keadilan mengharuskan adanya kecintaan, motivasi, dan kecenderungan yang sama dalam hati kepada para istri, kemudian demikian pula melakukan konsekuensi hal tersebut. Ini adalah perkara yang susah dan tidak mungkin. Oleh karena itu, Allah -Ta’ala- memaafkan perkara yang tidak sangup untuk dilakukan. Kemudian, Allah -Ta’ala- melarang sesuatu yang mungkin terjadi (yaitu, terlalu condong kepada istri yang lain, tanpa menunaikan hak-hak mereka yang wajib-pent),
فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ “Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (QS. An-Nisa`: 129)
Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan. Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya, wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut, lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]
Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Asy-Syinqithiy -rahimahullah- berkata dalam Adhwa’ Al-Bayan (1/375) ketika menafsirkan ayat di atas, “Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalan cinta, dan kecenderungan secara tabi’at, karena hal itu bukan di bawah kemampaun manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar’iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan”.
Jadi, dari komentar para ahli tafsir tadi, tidak ada di antara mereka yang berdalil dengan ayat itu untuk menolak poligami. Lantas kenapa wanita ini tak mau menoleh ucapan para ulama’ tafsir? Jawabnya, karena tafsiran mereka tidak tunduk kepada hawa nafsu wanita ini.
Adapun dalil dalil yang menunjukan disyariatkannya poligami antara lain, maka telah berlalu dalam (QS. An-Nisa`: 3).
Di antara dalil poligami, Seorang tabi’in, Sa’id bin Jubair, “Ibnu Abbbas berkata kepadaku: “Apakah engkau telah menikah ?” Aku menjawab “ Belum”. Ibnu Abbas berkata, “Maka menikahlah, karena sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya”. [HR. Al-Bukhariydalam Shohih-nya).
Satu lagi dalil poligami -namun sebenarnya masih banyak-,
Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setellah istri sebelumnya janda maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari maka sang suami tinggal dirumah istri yang janda selama tiga hari kemudian dia bagi”. [HR Bukhariy dalam Ash-Shohih]
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- dalam Fatul Bari (9/10) berkata, “Dalam hadits ini, ada anjuran untuk menikah dan meninggalkan hidup membujang”.
Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang menunjukan disyari’atkannya seorang muslim, laki-laki maupun wanita melakukan poligami. Jadi, kami nasihatkan kepada diri kami dan para suami dan calon suami untuk menikah hingga empat orang istri, jika dia sanggup untuk berbuat adil dalam perkara lahirah, seperti, pembagian malam, dan nafkah. Adapun adil dalam perkara batin (seperti, cinta, kesenangan jimak, perasaan bahagia bersama dengan salah satu diantara mereka), maka ini bukan merupakan syarat berdasarkan hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama.
.
Terakhir, Kami nasihatkan kepada para wanita agar bersiap untuk dimadu dan berlapang dada untuk menerima anugerah poligami ini, serta tidak menentang syari’at poligami, karena ini adalah kekufuran. Samahatusy Syaikh Abdul Azizi bin Baz-rahimahullah- berkata, “Barangsiapa yang membenci sedikitpun dari sesuatu yang dibawa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, meskipun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir.
Allah -Ta’ala- berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad: 9)[Lihat Nawaqid Al-Islam]
Sumber : www.almakassari.com

Wanita dan Poligami....

Assalamualaikum wrt wbt... Baru-baru ini, penulisan ana telah mendapat perhatian dari kaum ibu-ibu dan isteri-isteri mithali... Mungkin kerana kurangnya pengetahuan ana tentang poligami ini tetapi ana tetap berpegang kuat dengan pendapat ana berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah. Ana tidak bertaqlid semata-mata.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa: 3)
Ya, memang ana tidak merasakan bagaimana deritanya kaum ibu-ibu dan isteri-isteri bagaimana dimadukan dan ana sendiri juga belum berkahwin. Namun demikian, ana tetap dengan pendirian ana menyokong poligami kerana Nabi Muhammad SAW sendiri berpoligami. Apakah kalian tidak setuju dengan sunnah Rasulullah? Isu poligami membuatkan hati kaum adam berbunga-bunga kerana mereka telah diberi 'line' untuk beristeri dua, tiga mahupun empat. Namun diingatkan para kaum bapa-bapa dan suami-suami, poligami adalah suatu perkara yang membuatkan anda perlu bijak dan adil. Jika anda mahukan sunnah poligami, maka lakukan seperti mana yang Nabi Muhammad SAW ajarkan kepada kamu... Bagi kaum hawa tidak suka dimadukan. Isu poligami amat ditentang para isteri-isteri dan ibu-ibu kerana beberapa sebab. Malah, amat menyakitkan! Namun, apakah layak bagi kita, kaum hawa, menghalang poligami dan menentang sunnah Rasulullah SAW? Menentang Rasulullah bererti kita menentang Allah! NAUZUBILLAHI MIN ZALIK... Para ibu-ibu dan isteri-isteri mithali, ana tidak merasakan apa yang kalian rasakan saat dimadukan. Maafkan segala salah silap penulisan ana jika apa yang ana tulis menimbulkan ketidakpuasan pada hati kalian. Mari ana bentangkan beberapa kisah: Kisah 1 Seorang isteri bernama Siti Aminah. Dia adalah seorang isteri yang cukup sempurna pada pandangan suaminya Haziq. Namun Haziq telah berkenan pada seorang gadis yang bernama Fatin. Sang suami pernah memberi klu kepada isterinya Aminah tentang poligami dalam Islam. Namun Aminah telah berkata " Abang, kalau nak pasang dua, langkah mayat saya dulu". Akhirnya sang suami tidak mampu menyuarakan hasratnya dan berzina dengan Fatin. Komen: Anda membiarkan suami anda melakuan zina? Andalah faktor sebenar suami anda melakukan zina kerana tidak membenarkan dia bernikah lagi satu. Redhakah Allah kepada anda... Kisah 2 Amin bernikah dengan Haspalela dan mempunyai beberapa orang anak. Haspalela tidak membenarkan Amin memadukannya dan memohon diceraikan jika ingin berkahwin lain. Maka jatuhlah talak ke atasnya. Komen : Kalian akan berkata "Apakah nasib bagi anak-anakku nanti? aduhai...dibesarkan tanpa kasih seorang bapa. Apabila besar nanti, apakah yang akan kujawab? Bagaimana ingin ku membesarkan mereka. Alangkah baiknya jika ada orang disampingku..." Banyak kos lepas yang kalian akan hilang... Bahkah bukan kalian, tapi anak-anak kalian.... Kisah 3 Hidayat telah berkahwin dengan seorang isteri. Tapi ingin berkahwin dengan seorang lagi wanita... Dia telah berkahwin senyap-senyap dan sang isteri mengetahuinya beberapa tahun kemudian. Mengamuk sang isteri.... Komen : Lebih memeritkan jika suami kalian berkahwin senyap2 kan? Tengok-tengok dah ada isteri...dah ada anak dah pun!! Lagi sakit... Beberapa individu telah menghantar kepada ana beberapa komen tentang pendapat ana. Terima kasih ana ucapkan kepada ibu-ibu dan isteri-isteri yang telah menghantar komen tersebut. Ana bukanlah mahu kalian berpoligami. Ia hanyalah pendapat ana sendiri. Terpulang pada kalian untuk menerima atau tidak. Ana berhak bersuara, kalian juga berhak bersuara terhadap apa yang disuarakan. Ana menerima beberapa kritikan. Pendapat ana sebelum ini yang mendapat feed back panas dari para ibu dan isteri: "Biarlah ana sendiri yang pergi meminang gadis kesukaan dia dari dia ditangkap khalwat atau kawin senyap2." Explanation (pendapat ana): 1)Ya, benar seperti apa yang kalian katakan pada ana. Ana hipokrit mengatakan ana sendiri yang pergi meminang gadis kesukaan dia. Ana juga akan merasa sakit hati jika suami ana nanti ingin bernikah lagi satu. Ana juga akan merasa geram jika diri ana mahu dimadukan. Tetapi, ikutkan hati binasa... 2)Rasanya tiada suami yang ingin mengatakan pada isterinya bahawa dia ingin berkahwin lagi satu tapi tiada calonnya. Jarang kita jumpa. Kalau perkara itu berlaku kepada ana, ana akan carikan yang terbaik kepada suami ana. Pada pendapat ana, jika seorang isteri yang mencarikan isteri untuk suaminya, itu tandanya redha. Isteri untuk suamiku itu bakal menjadikan suamiku seorang yang lebih taat pada perintah agamanya, lebih beriman kepada tuhannya, lebih cintakan ukhrowi dari duniawinya... Dan kesemua itu akan memberi kesan yang baik kepada suamiku nanti. Dan isteri untuk suamiku nanti dapat mempengaruhi cara kehidupan kami semua ke arah mardhatillah... 3) Jika ada calon yang disukainya, memang hati ana sakit. Tetapi para ibu dan isteri sekalian, tahukah kita, bahawa apabila seorang suami meluahkan keinginannya mahu berkahwin lagi satu dan mempunyai pilihannya, bermakna dia seorang yang jujur pada isterinya. Jika dia seorang yang tidak jujur, mesti dia akan mengorat anak dara tersebut di luar pengetahuan kita. Mahukah kita terserempak dengan suami kita di luar sana sedang berdating dengan perempuan lain? Menyakitkan bukan? Apabila seorang suami memberitahu keinginannya berkahwin lagi satu kepada kita, ia menandakan mereka mahu meminta restu kita. Ada suami yang setia pada isteri, akan menurut jika isterinya tidak bersetuju suaminya berkahwin lain. Memang berat untuk melepaskan suami kita berkahwin lain, tapi janganlah fikir untuk diri kita. Fikirlah keperluan suami kita juga. Kalau anda rasa dia cukup syarat untuk beristeri dua, redhakanlah... Kesemuanya ada hikmah. Kalau ana yang yang pergi meminang sendiri gadis kesukaannya, ia menunjukkan ana meredhainya walaupun dalam jiwa hanya Allah je yang tahu. Sebenarnya isu meminang sendiri isteri untuk suamiku adalah salah satu cara menguatkan hati lebih kepada Mardhatillah...Ia menunjukkan kita bersetuju dengan sunnah Rasulullah... Para ibu dan isteri... Ana tidak layak memberi komen balas rasanya... Tapi ana rasa, ana berhak juga bersuara bagi pendapat ana. Ana memohon ampun maaf jika cara pendapat ana tidak kena... Ana belum merasakan apa yang kalian rasakan. Tapi ana tetap dengan pendirian ana. Poligami tidak menjadi masalah kepada wanita sebenarnya tetapi menjadi masalah bagi kaum lelaki. Mereka yang patut pening bagaimana berlaku adil. Bukan kita yang perlu pening-pening giliran bermalam, rezeki, tempat tinggal, etc.... Isteri-isteri dan ibu-ibu perlu lebih memikirkan hidup untuk memberi daripada memikirkan apa yang perlu diterima... -Mencari Mardhatillah...- LuKLuK BaiDoaH

Soal Jawab: Tentang Poligami

Pertanyaan: Mengapa Allah mengizinkan poligami? Jawapan:
Sebelum menjawabnya, perlu kita ketahui bersama sebuah kaidah dalam agama kita bahwa ketika Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan sesuatu, maka syariat yang Allah turunkan tersebut memiliki maslahat yang murni ataupun maslahat yang lebih besar. Sebaliknya, ketika Allah melarang sesuatu maka larangan tersebut pasti memiliki bahaya yang murni maupun bahaya yang lebih besar.
Allah berfirman, إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)
Sebagai contoh Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bertauhid yang mengandung maslahat yang murni dan tidak memiliki mudarat sama sekali bagi seorang hamba.
Demikian pula, Allah subhanahu wa ta’ala melarang perbuatan syirik yang mengandung keburukan dan sama sekali tidak bermanfaat bagi seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan jihad dengan berperang, walaupun di dalamnya terdapat mudarat bagi manusia berupa rasa susah dan payah, namun di balik syariat tersebut terdapat manfaat yang besar ketika seorang berjihad dan berperang dengan ikhlas yaitu tegaknya kalimat Allah dan tersebarnya agama Islam di muka bumi yang pada hakikatnya, ini adalah kebaikan bagi seluruh hamba Allah.
Allah berfirman, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)
Demikian pula, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan judi dan minuman keras, walaupun di dalam judi dan minuman keras tersebut terdapat manfaat yang bisa diambil seperti mendapatkan penghasilan dari judi atau menghangatkan badan dengan khamar/minuman keras. Namun mudarat yang ditimbulkan oleh keduanya berupa timbulnya permusuhan di antara manusia dan jatuhnya mereka dalam perbuatan maksiat lainnya jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan.
Allah berfirman, يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat keburukan yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi keburukan keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al Baqarah: 219)
Setelah kita memahami kaidah tersebut, maka kita bisa menerapkan kaidah tersebut pada syariat poligami yang telah Allah perbolehkan. Tentu di dalamnya terdapat manfaat yang sangat besar walaupun ada beberapa mudarat yang ditimbulkan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dengan syariat tersebut. Sebagai contoh misalnya: terkadang terjadi kasus saling cemburu di antara para istri karena beberapa permasalahan, maka hal ini adalah mudarat yang ditimbulkan dari praktek poligami. Namun, manfaat yang didapatkan dengan berpoligami untuk kaum muslimin berupa bertambahnya banyaknya jumlah kaum muslimin dan terjaganya kehormatan wanita-wanita muslimah baik yang belum menikah maupun para janda merupakan kebaikan dan maslahat yang sangat besar bagi kaum muslimin.
Oleh karena itu, jika kita melihat kebanyakan orang-orang yang menentang syariat poligami adalah orang-orang yang lemah pembelaannya terhadap syariat Islam bahkan terkadang melecehkan syariat Islam. Pemikiran mereka terpengaruh dengan pemikiran orang-orang kafir yang jelas-jelas tidak menghendaki kebaikan bagi kaum muslimin.
Bolehnya melakukan poligami dalam Islam berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa: 3)
Bolehnya syariat poligami ini juga dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan para sahabat sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata, “Anehnya para penentang poligami baik pria maupun wanita, mayoritas mereka tidak mengerti tata cara wudhu dan sholat yang benar, tapi dalam masalah poligami, mereka merasa sebagai ulama besar!!” (Umdah Tafsir I/458-460 seperti dikutip majalah Al Furqon Edisi 6 1428 H, halaman 62). Perkataan beliau ini, kiranya cukup menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang menentang poligami tersebut, hendaknya mereka lebih banyak dan lebih dalam mempelajari ajaran agama Allah kemudian mengamalkannya sampai mereka menyadari bahwa sesungguhnya aturan Allah akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Berikut kami sebutkan beberapa hikmah dan manfaat poligami yang kami ringkas dari tulisan Ustadz Kholid Syamhudi yang berjudul “Keindahan Poligami Dalam Islam” yang dimuat pada majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H sebagai berikut:

  1. Poligami adalah syariat yang Allah pilihkan pada umat Islam untuk kemaslahatan mereka.
  2. Seorang wanita terkadang mengalami sakit, haid dan nifas. Sedangkan seorang lelaki selalu siap untuk menjadi penyebab bertambahnya umat ini. Dengan adanya syariat poligami ini, tentunya manfaat ini tidak akan hilang sia-sia. (Syaikh Muhammad Asy Syanqithi dalam Adhwaul Bayaan 3/377 dinukil dari Jami’ Ahkamin Nisaa 3/443-3445).
  3. Jumlah lelaki yang lebih sedikit dibanding wanita dan lelaki lebih banyak menghadapi sebab kematian dalam hidupnya. Jika tidak ada syariat poligami sehingga seorang lelaki hanya diizinkan menikahi seorang wanita maka akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami sehingga dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kotor dan berpaling dari petunjuk Al Quran dan Sunnah. (Syaikh Muhammad Asy Syanqithi dalam Adhwaul Bayaan 3/377 dinukil dari Jami’ Ahkamin Nisaa 3/443-3445).
  4. Secara umum, seluruh wanita siap menikah sedangkan lelaki banyak yang belum siap menikah karena kefakirannya sehingga lelaki yang siap menikah lebih sedikit dibandingkan dengan wanita. (Sahih Fiqih Sunnah 3/217).
  5. Syariat poligami dapat mengangkat derajat seorang wanita yang ditinggal atau dicerai oleh suaminya dan ia tidak memiliki seorang pun keluarga yang dapat menanggungnya sehingga dengan poligami, ada yang bertanggung jawab atas kebutuhannya. Kami tambahkan, betapa banyak manfaat ini telah dirasakan bagi pasangan yang berpoligami, Alhamdulillah.
  6. Poligami merupakan cara efektif menundukkan pandangan, memelihara kehormatan dan memperbanyak keturunan. Kami tambahkan, betapa telah terbaliknya pandangan banyk orang sekarang ini, banyak wanita yang lebih rela suaminya berbuat zina dari pada berpoligami, Laa haula wa laa quwwata illa billah.
  7. Menjaga kaum laki-laki dan wanita dari berbagai keburukan dan penyimpangan.
  8. Memperbanyak jumlah kaum muslimin sehingga memiliki sumbar daya manusia yang cukup untuk menghadapi musuh-musuhnya dengan berjihad. Kami tambahkan, kaum muslimin dicekoki oleh program Keluarga Berencana atau yang semisalnya agar jumlah mereka semakin sedikit, sementara jika kita melihat banyak orang-orang kafir yang justru memperbanyak jumlah keturunan mereka. Wallahul musta’an.

Demikian pula, poligami ini bukanlah sebuah syariat yang bisa dilakukan dengan main pukul rata oleh semua orang. Ketika hendak berpoligami, seorang muslim hendaknya mengintropeksi dirinya, apakah dia mampu melakukannya atau tidak? Sebagian orang menolak syariat poligami dengan alasan beberapa kasus yang terjadi di masyarakat yang ternyata gagal dalam berpoligami. Ini adalah sebuah alasan yang keliru untuk menolak syariat poligami. Dampak buruk yang terjadi dalam sebuah pelaksanaan syariat karena kesalahan individu yang menjalankan syariat tersebut tidaklah bisa menjadi alasan untuk menolak syariat tersebut.

Apakah dengan adanya kesalahan orang dalam menerapkan syariat jihad dengan memerangi orang yang tidak seharusnya dia perangi dapat menjadi alasan untuk menolak syariat jihad?

Apakah dengan terjadinya beberapa kasus di mana seseorang yang sudah berulang kali melaksanakan ibadah haji, namun ternyata tidak ada perubahan dalam prilaku dan kehidupan agamanya menjadi lebih baik dapat menjadi alasan untuk menolak syariat haji? Demikian juga dengan poligami ini. Terkadang juga banyak di antara penolak syariat poligami yang menutup mata atau berpura-pura tidak tahu bahwa banyak praktek poligami yang dilakukan dan berhasil. Dari mulai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para ulama di zaman dahulu dan sekarang, bahkan banyak kaum muslimin yang sudah menjalankannya di negara kita dan berhasil.

Sebagaimana syariat lainnya, dalam menjalankan poligami ini, ada syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum melangkah untuk melakukannya. Ada dua syarat bagi seseorang untuk melakukan poligami yaitu (kami ringkas dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsari dalam majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H):

  1. Berlaku adil pada istri dalam pembagian giliran dan nafkah. Dan tidak dipersyaratkan untuk berlaku adil dalam masalah kecintaan. Karena hal ini adalah perkara hati yang berada di luar batas kemampuan manusia.
  2. Mampu untuk melakukan poligami yaitu: pertama, mampu untuk memberikan nafkah sesuai dengan kemampuan, misalnya jika seorang lelaki makan telur, maka ia juga mampu memberi makan telur pada istri-istrinya. Kedua, kemampuan untuk memberi kebutuhan biologis pada istri-istrinya.

Adapun adab dalam berpoligami bagi orang yang melakukannya adalah sebagai berikut (kami ringkas dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsari dalam majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H):

  1. Berpoligami tidak boleh menjadikan seorang lelaki lalai dalam ketaatan pada Allah.
  2. Orang yang berpoligami tidak boleh beristri lebih dari empat dalam satu waktu.
  3. Jika seorang lelaki menikahi istri ke lima dan dia mengetahui bahwa hal tersebut tidak boleh, maka dia dirajam. Sedangkan jika dia tidak mengetahui, maka dia terkena hukum dera.
  4. Tidak boleh memperistri dua orang wanita bersaudara (kakak beradik) dalam satu waktu.
  5. Tidak boleh memperistri seorang wanita dengan bibinya dalam satu waktu.
  6. Walimah dan mahar boleh berbeda dia antara para istri.
  7. Jika seorang pria menikah dengan gadis, maka dia tinggal bersamanya selama tujuh hari. Jika
  8. yang dinikahi janda, maka dia tinggal bersamanya selama 3 hari. Setelah itu melakukan giliran yang sama terhadap istri lainnya.
  9. Wanita yang dipinang oleh seorang pria yang beristri tidak boleh mensyaratkan lelaki itu untuk menceraikan istri sebelumnya (madunya).
  10. Suami wajib berlaku adil dalam memberi waktu giliran bagi istri-istrinya.
  11. Suami tidak boleh berjima’ dengan istri yang bukan gilirannya kecuali atas seizin dan ridha istri yang sedang mendapatkan giliran.

Demikian jawaban ringkas yang bisa kami sampaikan, semoaga bermanfaat. Wallahu a’lam. ***

Dijawab: Abu Fatah Amrullah (Alumni Ma’had Ilmi)

Murojaah: Ust. Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc.

Sunday, May 24, 2009

BERDAKWAH MELALUI PEMANDU PELANCONG DI MASJID

Oleh : Tn Hj. Daud bin Abd. Kadir
(Management Training and Consultancy-Pemandu Pelancong Masjid Negara)

APAKAH ITU DAKWAH? APAKAH ITU TABLIGH?
  • DAKWAH - mengajak kepada kebenaran dengan perkataan atau akhlak
  • TABLIGH - menyampaikan ajaran Islam khusus kepada orang-orang Islam dengan apa cara sekalipun

DAKWAH BUKAN BERMAKNA BERCERAMAH ATAU BERDEBAT

  • DAKWAH BUKAN bermakna mengislamkan seorang bukan islam. Walau pun usaha-usaha dakwah itu mungkin akan membuka hati seseorang itu memasuki islam.
  • "OUR DUTY IS TO CONVEY NOT TO CONVERT"

Firman Allah : Oleh itu, jika mereka berpaling ingkar maka kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) sebagai pengawas terhadap mereka; tugas mu tidak lain hanya menyampaikan (apa yang diperintahkan kepada mu) [42:48]

Firman Allah : Sesungguhnya kamu tidak dapat menghidayahkan sesiapa yang kamu sukai Allah yang memimpin sesiapa yang Dia kehendaki Allah lebih Mengetauhi sesiapa yang layak dipimpin. [28:56]

  • Berdakwah kepada orang bukan Islam berbeza caranya dengan berdakwah pada orang Islam walau pun prinsip-prinsip dakwah itu sama.
  • Minda seorang bukan Islam itu berbeza dengan kita oleh itu kita perlu kepada cara yang berlainan.

BERDAKWAH VS ORANG ALIM

  • Orang alim : mempunyai ilmu yang luas
  • Pendakwah : seperti jurujual

SIAPAKAH ORANG-ORANG BUKAN ISLAM

  • Mereka adalah saudara-saudara kita sesama manusia. Mereka perlukan kita untuk menyampaikan kecantikan Islam kepada merek.a
  • Adalah menjadi hak mereka untuk mengetahuinya dan adalah menjadi tugas kita untuk menyampaikan.

Firman Allah : Wahai umat manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah amat mengetahui lagi amat mendalam pengetahuannya (akan keadaan dan amalan kamu) [49:13]

Sebagai orang Islam--->>> Memimpin orang-orang bukan Islam

Firman Allah : Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi faedah umat manusia, kerana kamu menyuruh membuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah dengan sebenar-beanr iman. [3:110]

Firman Allah : Dan demikianlah (sebagaimana Kami telah memimpin kamu ke jalan yang lurus), Kami jadikan kamu (wahai umat Muhammad) satu umat yang pilihan lagi adil. [2:143]

.

ALLAH BUKAN TUHAN ORANG-ORANG ISLAM DAHAJA BAHKAN TUHAN BAGI BUKAN ISLAM JUGA

RABBULAALAMEEN - Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekian alam [1:2]

RABBUN NAAS - Allah pemelihara sekalian manusia [114:1]

.

NABI MUHAMMAD SAW BUKAN NABI UNTUK ORANG-ORANG ISLAM SAHAJA BAHKAN BELIAU ADALAH NABI UNTUK ORANG BUKAN ISLAM JUGA

RAHMATUL AALAMEEN : Rahmat seluruh alam [21:107]

KAAFFTUN LIN NAAS : Dan tiadalah kami memutusmu (wahai Muhammad) melainkan untuk umat manusia seluruhnya [34:28]

.

ALLAH BUKAN UNTUK ORANG-ORANG ISLAM SAHAJA BAHKAN IA ADALAH SEBAGAI PEMIMPIN BAGI ORANG-ORANG BUKAN ISLAM JUA

DZIKRIL AALAMEEN : Peringatan untuk seluruh alam [12:104]

HUDAN LIN NAAS : (Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu dalam bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk sekalian manusia. [2:185]

.

ORANG-ORANG BUKAN ISLAM ADALAH SAUDARA KITA SESAMA MANUSIA YANG TIDAK MENGENALI

  1. Allah yang telah menjadikan seluruh alam
  2. Muhammad rahmat bagi seluruh alam
  3. Al-Quran sebagai "pemimpin" di dalam kehidupan kita
  • Allah merujuk kepada manusia sebagai Bani Adam {Islam dan bukan Islam}

Firman Allah : Dan sesungguhnya kami telah memuliakan anak-anak Adam [17:70]

.

SIFAT SEORANG DAI'

Seorang dai' adalah ibarat sebagai seorang doktor yang prihatin dengan 'penyakit' pesakitnya bukan rupa parasnya atau tindak tanduknya.

Seorang dai' seperti seorang jurujual cuba menjual produknya dengan cara terbaik dengan tidak menghiraukan jika ada apa-apa tindak-tanduk pembeli yang mungkin tidak menyenangkan

CARA BERDAKWAH

  • Semua usaha kita harus ditumpukan untuk menolong seorang itu memahami Islam dengan sebenarnya.
  • Proses transformasi akan berlaku sedikit demi sedikit, mereka harus diberi masa untuk memahami Islam.
  • Jika iman itu tidak mantap mungkin dia akan keluar dari Islam semudah ia meamsukinya dahulu.
  • Ikhlas untuk membantu sesama manusia dengan penuh perasaan tanggungjawab sebagai seorang muslim, dengan perasaan simpati di atas kesesatan mereka.
  • Ikhlas untuk menyelamatkan mereka dari kemurkaan Allah.
  • Ingin berkongsi bersama mereka kecintaan kita kepada Islam.

BAGAIMANA CARA BERDAKWAH...?

Berdakwah sambil memandu pelancong-pelancong masjid

TUJUAN PELANCONG : Melihat keindahan masjid dan senibinanya.

TUJUAN KITA :

  1. Memikat hati mereka dan membuka minda mereka
  2. Sedikit sebanyak cuba menghapuskan apa-apa presepsi negatif mereka tentang Islam dan penganutnya.
  3. Menerangkan islam sebagai satu agama atau addeen [cara hidup].

MENYERAPKAN TUJUAN MEREKA DENGAN TUJUAN KITA

  • Teknik "sandiwch"
  • Gunakan maklumat-maklumat sekular berkenaan masjid seperti Mehrab, perkataan Allah, Muhammad SWT, menara dan lain-lain sebagai asas untuk diselitkan maklumat-maklumat yang berupa konsep Islam dan hal-hal yang bersangkut-paut dengan keimanan.

TUJUAN SEBENAR KITA???

MENCARI KEREDHAAN ALLAH...

.

INFORMASI YANG PERLU DIBERIKAN:

  1. Tentang Masjid
  2. Tentang Islam

TENTANG MASJID

Sejarah pembangunannya :

  • Kos pembinaan (us $)
  • Senibina
  • Keluasan ruang
  • Bahan binaan (mungkin ada yang diimport dari negara pelancong yang kita sedang berinteraksi
  • Apa-apa kelainan yang mungkin boleh menarik minat pengunjung

MAKLUMAT YANG PERLU DIBERIKAN TENTANG ISLAM

  • Seberapa yang boleh cari peluang untuk menyampaikan maklumat berikut dalam kita menerangkan aspek-aspek fizikal masjid :
  1. Allah
  2. Islam
  3. Muhammad SWT
  4. Quran
  5. Sembahyang
  • Dari minat yang ditunjukkan dan juga dari gerak tubuh pengunjung kita boleh "agak" seumum mana atau seperinci mana huraian yang harus kita berikan.
  • Kalau dapat biarkan mereka mendengar azan dan melihat sembahyang jemaah.

DALAM MASA YANG TERHAD INI, ELAKKAN DARI PERKARA-PERKARA BERIKUT :

  • Mudah tersinggung dengan apa-apa kelakuan atau perkataan mereka - cool
  • Isu-isu kontreversi
  • Isu yang remeh-temeh
  • Menyakit atau melukakan hati mereja
  • Mengkritik secara terang-terangan tentang agama atau kepercayaan mereka.
  • Jangan sekali-sekali berinteraksi dengan cara yang boleh menimbulkan prasangka kepada mereka yang kita sedang bersungguh-sungguh "berdakwah"..Relaks!

CARA INTERAKSI

  • Cuba berinteraksi secara interaktif, elakkan berceramah
  • Bercakap dalam konteks yang mudah difahami
  • Tonjolkan apa ciri-ciri kesamaan antara kita dan mereka
  • Terangkan bagaimana Islam itu relevan kepada masyarakat manusia sejagat
  • Jangan berkobar-kobar, selitkan unsur-unsur kelakar dalam percakapan kita (inject humour)
  • Kebanyakan dari mereka adalah pelancong.."we wanna have a good time !"
  • Sesi foto kalau boleh cuba dapatkan mereka bergambar dalam keadaan tangan mereka sedang berdoa!

ASPEK-ASPEK DAKWAH YANG TIDAK LISAN "NON VERBAL"

  • Pakaian kita perlu kemas
  • Jubah yang disuruh mereka pakai harus selesa
  • Air muka kita yang tenang
  • Bau mulut
  • Pergerakan tangan
  • Gula-gula untuk kanak-kanak mungkin air untuk semua pengunjung
  • Kawasan dakwah yang terurus
  • Kipas angin untuk pengunjung
  • Kerusi untuk mereka yang perlu
  • Jika mereka kata "not mush time" "taxi waiting for me" cuba berjalan keluar dengan mereka dan tanya adakah apa-apa soalan tentang Islam yang mereka inginkan jawapan atau penerangan

MENCARI KEBERKATAN DALAM BERDAKWAH

  • Tahajud dan banyakkan doa
  • Apabila kita berdakwah kita sebenarnya berdakwah kepada diri kita sendiri
  • Banyak berbincang dengan rakan-rakan yang lain
  • Berkongsi pengalaman
  • Saling memotivasi sesama sendiri
  • Kalau ada apa-apa kritikan sesama sendiri dibuat secara konstraktif
  • Awas! Para Dai' adalah musuh syaitan yang lebih besar dari ahli 'abid !

Thursday, May 21, 2009

Al Mukminah As Solehah

Maksud Hadis Rasulullah S.A.W. :

"Kebahagiaan bagi anak Adam ada tiga. Dan kesengsaraan terhadap anak Adam ada tiga. Maka di antara yang membahagiakan adalah isteri yang soleh, kenderaan yang baik serta rumah yang lapang. Dan kesengsaraan bagi anak Adam ada tiga iaitu tempat yang tidak baik dan isteri yang tidak baik serta kenderaan yang tidak baik."

From the book "Al Mukminah As Solehah"

Isteri yang soleh itu sentiasa berjuang bersama-sama suami menyebarkan fikrah Islamiyyah, khususnya kepada kaum sejenisnya. Mendidik dan membimbing mereka sehingga lahir kefahaman dan kesedaran Islam. Sehingga mereka pula mampu untuk menjadi pejuang-pejuang akidah yang bersedia menumpukan taat setia kepada Islam dan pergerakannya. Keletihan suami setelah melaksanakan tugas harian dan berdakwah disambut dengan wajah yang berseri dengan ucapan kata-kata yang dapat memberi kekuatan jiwa untuk lebih istiqamah, ketika menghadapi masyarakat jahiliyah tanpa mempunyai perasaan bosan dan jemu. Mengizinkan dan merasa bahagia melihat suami menjalankan tugas Islam tidak kira masa dan waktu. Bersedia memberikan rumahnya, hartanya dan masanya untuk tugas yang murni ini dengan hati yang penuh redha. Isteri yang soleh juga sentiasa melaksanakan tugas-tugas yang diamanahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan bersedia untuk menghadapi segala ujian-ujian dari Allah SWT.

Pesanan Imam Al-Ghazali kepada anak perempuannya di hari perkahwinannya :

Anakku!
Engkau sekarang akan berpindah dari rumah tempat engkau dibesarkan
Dan akan berada di tempat tidur yang tidak engkau kenal,
Dan rakan hidup yang engkau tidak biasa dengannya. Itulah suamimu;
Jadilah engkau sebagai tanah untuknya dan ia akan menjadi sebagai langitmu.
Jadilah engkau sebagai lantai untuknya dan ia dapat kau jadikan tiangmu.
Jadikanlah dirimu ibarat seorang khadam kepadanya,
nescaya dia pula akan menjadi khadam kepadamu.
Jangan engkau memaksa-maksa apabila engkau meminta sesuatu daripadanya...
Dengan cara yang demikian akan menjadi ia merasa benci padamu.
Jangan pula engkau menjauhkan diri nescaya ia akan melupakan engkau.
Dan kalau ia pula menjauhkan diri secara marah kerana sesuatu sebab yang tertentu,
maka yang eloknya jauhkanlah dirimu daripadanya semasa marah.
Peliharalah hidung, telinga dan matanya
Janganlah membiarkan dia menghidu sesuatu daripada mu melainkan yang harum,
Janganlah membiarkan dia mendengar sesuatu daripadamu melainkan yang baik,
Dan janganlah membiarkan dia melihat sesuatu daripada mu melainkan yang cantik, belaka.

Wednesday, May 13, 2009

Cintakanadat daripada syariat?

Ade umat islam kita skang lbh cintakan adat drpd syariat. Hukum adat….hish, mana leh tinggal, kna buat ni. Hukum syariat….ala, xper la, kita niat baik. Cuba tgk satu ayat: Al-Baqarah ayat 170

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?.

Ada yg menganggap belanja hantaran wang perkahwinan adalah suatu kemestian walau ramai mengakui ianya membebankan pasangan pengantin khususnya si lelaki dengan anggapan ianya sebagai satu tanda kesungguhan si lelaki untuk mengahwini wanita idamannya dan sebagai satu tanda penghargaan kepada si wanita.

Apa pun alasan yang diberikan, yang jelas adat ini membebankan pasangan yang ingin berkahwin. Ada yang terpaksa berhutang begadai puluhan ribu, ada yang terpaksa menangguhkan perkahwinan kerana duit belanja masih belum cukup.

Kenduri itu adalah ibadah, lakukanlah sekadar kemampuan. Bagi yang kaya dengan kemampuannya, bagi yang kurang dengan kemampuannya. Jika keluarga lelaki dari keluarga yang berkemampuan, mmg tiada salahnya untuk memberi hadiah kpd pihak perempuan tp realitinya kini….belanja itu diminta oleh pihak perempuan dan mahu atau tidak, rela atau terpaksa, pihak lelaki perlu menunaikan kehendak keluarga perempuan. Ye la…..klu tidak, tertangguh la nk kawen.

Jauhilah dari perbuatan riak, menunjuk nunjuk, membazir dan berhutang di sana sini, janganlah kita menurut rentak semasa sehingga bergolok bergadai. Sesungguhnya jika termasuk sifat riak, menunjuk nunjuk dan keinginan di puji orang dan malu dipandang tidak berkemampuan sedangkan sebenarnya kita sememangnya tidak berkemampuan maka semua itu adalah jalan jalan kebencian Allah.

Pekahwinan itu adalah amalan yang mulia dan Islam itu datang untuk memberi kemudahan kepada umat manusia. Jadi jika kita hiasi perkahwinan itu dengan urusan yang sukar dengan wang belanja yang beribu ribu, hantaran dan berbagai adat yang akhirnya menyebabkan tertangguh dan menjadi kesukaran kepada pihak yang lainnya, itu semua adalah adat yang perlu dipinggirkan, biarlah kenduri itu walau sederhana namun penuh dgn keberkatan Allah dari meriah dgn berbagai acara yg grand namun dicela Allah. sabda Rasulullah saw.: Riwayat Bukhari.

Sesungguhnya agama itu adalah mudah. Dan tidaklah seseorang itu keterlaluan dalam amalan agama melainkan dia akan mengalah (tidak sanggup meneruskannya). Maka tutup menutup (kedhaifan), dekat mendekat (menurut kadar kemampuan) dan berikan khabar gembira (terhadap ganjaran baik)”

Ade yg beranggapan belanja hantaran ni adalah nilaian seseorang wanita….pergh….murah sungguh klu benar demikian. Bagi wanita yang bekerja kilang cukup dengan 5-6 ribu wang hantaran, xleh letak banyak sangat sbb nnt org xmo kawen…awk tu kerja kilang ja. Klau seorang wanita itu lulusan ijazah maka up kan lagi nilainya, 8ribu 9ribu…bangunlah wahai umat Islam.

Belanja hantaran ini bukan nilaian harga wanita. Jika wanita itu boleh dinilai dengan wang ringgit, walau sejuta diberikan ianya masih murah. Wanita itu amat berharga dan ia bukan sesuatu untuk dinilai dengan wang ringgit atau kekayaan. Pekerja kilang ke, cikgu tadika, lawyer, nilai wanita itu pd agamanya, pd akhlaknya dan ianya sgt berharga, xdpt dinilai dgn wang ringgit.

Disebabkan adat inilah, antara sebab berlakunya zina. Untuk berzina cukup dengan rm10, dah dapat pompuan. Tapi untuk melakukan ibadah, untuk mengelak dari maksiat maka berpuluh2 ribu diperlukan. Seseorang yg ingin melakukan ibadah, sepatutnya kita tolong. Kawan datang ke rumah, ingin tumpang bersolat…kita bentangkan sejadah untuknya, kita sediakan tempat yang bersih untuknya. Anak muda yg ingin berkahwin sepatutnya kita mudahkan urusan mereka bukan menyusahkan.

Di sinilah perkara yang perlu kita renungkan…apakah kita lebih menyintai Allah atau kita lebih menyintai adat yang diwarisi turun temurun ? Surah Zukhruf ayat 36

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah teman yang menyertainya.

Ingat ek….setan ni tukang hasut je. Kita yg pilih nk ikut die ke tak, dan kita bertanggungjawab atas pilihan kita masing2. Surah Ibrahim ayat 22

Dan berkata syaitan tatkala perkara (yakni hisab) telah diselesaikan: Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu melainkan sekadar aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pediH.

http://liveurlife-chipsey.blogspot.com/2009/05/unseen-enemy.html

SeoRaNg LeLaKi iDaMaN


Seorang lelaki yang diidamkan
Ialah seorang buta,bisu, bakhil dan papa


Biarlah dia seorang yang buta
Buta, Kerana matanya sunyi daripada melihat perkara-perkara maksiat dan lagha
Kerana matanya terpelihara daripada memandang aurat wanita ajnabi
Asalkan kedua matanya terang dalam memerhatikan keagungan ciptaan Allah
Asalkan dia celik dalam melihat kesengsaraan umat Islam di Palestin, Ambon, Bosnia dan seumpananya

Biarlah dia seorang bisu
Bisu, Bisu daripada pujuk rayu yang bisa menggoncang keimanan
Bisu daripada mengungkapkan ucapan yang bisa meracun fikiran
Bisu daripada perkataan yang bisa mendatangkan kekufuran
Asalkan bibirnya sentiasa basah mengingat Tuhan
Asalkan lidahnya tidak pernah lekang dari membaca Al-Quran
Asalkan dia petah membangkang kemungkaran
Dan lantang menyuarakan kebenaran

Lelaki yang diidamkan ialah seorang yg bakhil
Bakhil, Bakhil dalam memberi senyuman
Pada wanita yang bukan mahramnya
Bakhil dalam meluangkan masa bertemu janji dengan wanita ajnabi yang boleh dinikahinya
Bakhil untuk menghabiskan wang hanya kerana seorang wanita yang tidak sepatutnya
Tetapi dia begitu pemurah meluangkn masanya untuk beribadah kepada Khaliqnya
Dia begitu pemurah untuk mempertahankan aqidahnya
Pemurah dalam memberi nasihat dan teguran
Sehingga dia sanggup menggadaikan hartanya
Bahkan nyawanya sendiri untuk melihat kalimah LAILAHAILALLAH
Kembali megah di muka bumi

Lelaki yang diidamkan adalah seorang yang papa
Papa, Papa dalam melakukan perkara maksiat
Papa dalam ilmu-ilmu yang tak berfaedah dan bermanfaat
Papa memiliki akhlak mazmumah
Tapi dia cukup kaya dalam pelbagai ilmu pengetahuan
Dia begitu kaya memiliki ketinggian akhlak dan budi pekerti yang mulia
Dia begitu kaya dengan sifat sabar dalam mengharungi tribulasi kehidupannya
Dan dia seorang yang kaya dalam membina jati diri
Dia mahu menjadi seorang syuhada
Yang syahid di jalan Maha Esa

Persoalannya...
Masih adakah lelaki idaman itu?

Monday, May 11, 2009

Kebiasaan Seorang Perempuan Bakal Isteri


Seorang Perempuan
Biasanya...
Ingin mencari pasangan yang sama taraf, sama kaya, sama pangkat, sama padan
Kerana...
Kononnya sekufu padahal nak jaga nama dan untuk berlagak
Bagi pendapat ana...
Satu hari nanti kalau jatuh miskin, hilang pangkat, hilang taraf, terus cerai la yer?

Seorang Perempuan
Biasanya...
Sebelum kahwin, akan berkata “saya sanggup bersama-sama awak susah dan senang”
Kerana...
Nak bagi keyakinan pada seorang bakal suami
Bagi pendapat ana...
Tak payah la bagi janji... nanti bila tak dapat nk tanggung susah bersama, janji tu makan diri. Ciri-ciri munafik adalah orang yang apabila berjanji, tapi dia mungkiri. Mahukah jadi orang munafik? Bila susah, balik umah mak ngadu. Seorang isteri sepatutnya berkata "Saya akan berusaha untuk jadi isteri yang baik dan solehah", itu sudah memadai...

Seorang Perempuan
Biasanya...
Nak pakai baju pengantin yang sangat cantik seperti puteri raja
Kerana...
Untuk kelihatan paling cantik dalam majlis kenduri dan mengatakan hari kawin sekali seumur hidup
Bagi pendapat ana...
Kalau nak pun, biarlah molek sikit baju pengantin tu.. ini tidak, belah sampai ke peha, jarang, patu nipis pulak tu... yang paling selalu orang pakai, mesti ketat. Nak bagi orang tengok la tu betapa rampingnye die, betapa cantiknye die, betapa bertuah sape yang dapat die... baru akad, da bagi dosa kat suami kerana xjaga aurat... kesian kat suami...

Seorang Perempuan Bakal Isteri
Biasanya...
Lebih suka kenduri kahwin buat besar-besaran, bertambah seronok kalau buat di hotel
Kerana...
Di situlah dia menunjukkan kekayaan dan kemegahan keluarganya
Bagi pendapat ana...
Balik semula kepada tujuan walimatul urus... untuk memberi tahu orang ramai tentang penyatuan dua pasangan dan menjamu orang ramai tanpa mengira kaya miskin... tak berkat walimatul urus tu dgn kemegahan dan kesombongan....

Seorang Perempuan Bakal Isteri
Biasanya...
Nak honeymoon jauh-jauh dan tempat mahal-mahal. Lagi suka dapat honeymoon di luar negara
Kerana...
Dia fikir orang yang kawin mesti honeymoon dan tanda sayang seorang suami kepada isterinya
Bagi pendapat ana...
Dari pegi honeymoon, baik pegi wat umrah, haji... bukan xboleh honeymoon, tapi kita dahulukan penyatuan dan pembentukan keluarga dulu. Honeymoon tu bila-bila pun boleh wat.. tapi ajal maut kita leh tau ke? Lebih best honeymoon lepas beberapa tahun kita kenal pasangan masing2...

Seorang Perempuan Bakal Isteri
Biasanya...
Nak duduk rumah sendiri. Tak mahu duduk rumah mentua...pastu nak duk jauh dari umah mentua
Kerana...
Dia memang tak suka mertua dan kononnya pandai uruskan rumah sendiri serta tak mahu suami asyik ajak balik umah mertua
Bagi pendapat ana...
Biarlah suami dekat dgn ibunya. Biar dia jadi anak yang soleh. Isteri solehah tidak akan biarkan suaminya masuk ke neraka kerana tanggungjawabnya kepada ibunya tidak sempurna. Fahamilah tanggungjawab seorang suami adalah lebih kepada ibunya...Fahamilah kaum hawa...
.
Seorang Isteri
Biasanya...
Nak nafkah zahir dan batin yang mencukupi dari pihak suami
Kerana...
Dia fikir dia lebih berhak memilik hak2nya sebagai isteri
Bagi pendapat ana...
Ingat kawin tu untuk minta nafkah dari suami ke? Itu tandanya perempuan tersebut hanya mahukan kesenangan... Ingatlah seorang isteri solehah tidak akan meminta apa yang tidak mampu disediakan oleh suami. Kesenangan tu sememangnya tidak akan berpanjangan... Ingatlah, seorang isteri sepatutnya lebih mementingkan hak suaminya dari haknya seniri. Hidup utk memberi bukan utk menerima je...

Seorang Isteri
Biasanya...
Tidak mahu dimadukan. Sanggup bercerai kalau suami nak kawin lain
Kerana...
Tak sanggup berkongsi kasih
Bagi pendapat ana...
Biarlah ana sendiri yang pergi meminang gadis kesukaan dia dari dia ditangkap khalwat atau kawin senyap2. Lagi sakit hati berganda2! Nabi Muhammad beristeri empat mampu berlaku adil. Tak mustahil lelaki tidak boleh berlaku adil... Tapi agak-agak la. Kalau ikut sunnah Nabi pun, biarlah adil pun berusaha macam Nabi juga..

Seorang Perempuan Isteri
Biasanya...
Akan mengadu pada keluarganya jika suaminya kurang itu, kurang ini, tak cukup ngan ibu bapa, cerita pula pada kawan-kawan dan jiran tetangga. Habis satu kampung dok citer
Kerana...
Nak lepaskan geram dan ketidakpuasan hati
Bagi pendapat ana...
Seorang isteri yang solehah tidak akan membuka keaiban seorang suami. Ingatlah, isteri yang mengaibkan suaminya, Allah akan memberinya aib di akhirat nanti... Berterus teranglah kepada suami dan bawa berbincang...

Seorang Isteri
Biasanya...
Tidak tahan bila diherdik dan dimarahi oleh suaminya.. Lagi teruk dizalimi... Pastu nak bawak ke muka pengadilan terus...
Kerana...
Tak sanggup hidup dalam kesengsaraan dan tidak mahu sakit sedikit pun
Bagi pendapat ana...
Andai seorang perempuan tu tahu, jika seorang isteri mati di tangan suami yang zalim, syurgalah tempatnya... Ini sampai bawa ke mahkamah tinggi dari mahkamah syariah, terpaksalah yang sulit-sulit pun cerita, apa kes?? Peringatkanlah suami tentang azab pedih di neraka bagi seorang suami yang menzalimi isterinya
.
Relevankah pendapat ana?

Sunday, May 10, 2009

Ciri-ciri Isteri Solehah


Mengakui dan menerima kenyataan bahawa suami ialah ketua di dalam kepimpinan keluarga sesebuah rumah tangga. Tiada siapapun boleh menyangkal bahawa suami telah diberikan kelebihan satu darjah daripada isteri. Satu kurniaan Allah yang meletakkan suami bertanggungjawab menjaga serta mengawal keselamatan dan kesejahteraan perjalanan hidup keluarganya di dunia dan di akhirat serta suami wajib memberi nafkah isteri dan anak-anaknya.


Firman Allah:

Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian daripada harta mereka.

(An-Nisa: 34)


- Memberi keutamaan hak suami kerana bagi seorang isteri tidak ada hak yang lebih utama kepadanya selain hak suami.


Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hak siapakah yang lebih utama diberikan oleh seorang isteri. Rasulullah s.a.w. menjawab, suaminya. Apabila ditanya mengenai hak siapakah yang lebih utama diberikan oleh suami. Baginda menjawab, ibunya.

(Hadis riwayatHakim).


- Bersifat amanah iaitu menjaga maruah diri sendiri sebagai isteri dan menjaga maruah suami terutama di dalam perkara-perkara rahsia peribadi dan rumah tangga. Isteri ialah orang yang paling hampir kepada suami yang tahu segala kekurangan dan kelemahan suaminya. Membuka rahsia suami atau menyebarkannya akan menjejaskan kewibawaan suami, sekali gus menggugat keharmonian rumah tangga kerana suami telah hilang kepercayaan terhadap isteri.


- Bijaksana mentadbir harta benda suami tanpa membazirkannya. Jangan meminta sesuatu yang di luar kemampuannya kerana hal yang demikian akan menyebabkan tekanan dan ketegangan di dalam kehidupan suami.


- Sentiasa bersedia untuk menggembirakan hati suami, sama ada dengan tingkah laku yang menawan, tutur kata yang menjadi penawar sertaperhiasan diri zahir dan batin.



Rasulullah s.a.w. bersabda:

Tiada faedah yang paling baik diperoleh seorang mukmin (suami yang beriman) selepas bertaqwa kepada Allah azzawa jalla selain isteri yang solehah. Apabila suami menyuruhnya, ia mentaatinya. Jika suami memandangnya ia menggembirakan hati suaminya. Sekiranya suami bersumpah, ia memenuhi sumpah suaminya itu. Apabila ia keluar kerana bertugas atau berjuang, ia menjaga maruahnya dan maruah suaminya serta menjaga harta benda suaminya dengan cara berjimat cermat membelanjakannya.

(Riwayat Ibnu Majah).


Isteri wajib mentaati perintah suaminya selagi ia tidak bertentangan dengan kehendak Islam. Tetapi sayangnya ramai di kalangan suami yang menyalahgunakan pengertian taat ini. Mereka mengambil kesempatan untukmembebankan isteri dengan pelbagai hal yang tidak wajar.


- Berusaha menambah ilmu pengetahuan dan mempertingkatkan nilai-nilai akhlak yang murni supaya sejajar dengan petunjuk yang diarahkan oleh Islam mengenai sahsiah seorang isteri yang seharusnya dipilih oleh suami.


Sabda Rasulullah s.a.w.,

Seorang wanita itu dinikahi kerana salah satu daripada sifat-sifat utamanya; kejelitaannya, hartanya, akhlaknya dan agamanya. Hendaklah kamu memilih wanita yang memiliki agama dan akhlak, kamu akan beruntung kelak.

(Riwayat Ahmad).


- Mempunyai sifat redha, yakin diri serta tawakal kepada Allah untuk menghadapi sebarang masalah dan cabaran hidup berkeluarga


selaras dengan firman Allah,

Bergaullah dengan isteri-isteri kamu menurut carayang wajar dan baik. Sekiranya kamu berasa tidak senang disebabkanperangai mereka, bersabarlah mungkin dalam perkara yang kamu tidak sukaitu Allah menjadikan kebaikan yang banyak.

(An-Nisa: 19).


Walaupun ayat ini ditujukan kepada suami, pengajaran yang terkandung amat perlu menjadi panduan kepada para isteri. Setiap orang hendaklah menyedari hakikat bahawa tiada seorang pun yang cukup sempurna dalam segala aspek. Oleh kerana itu kita perlu berusaha memperbetulkannya dan menyelesaikannya.


- Membantu dan menolong suaminya agar menjadi anak yang sediaberbakti kepada kedua-dua ibu bapanya, lebih-lebih lagi ibunya yangtelah lanjut usia, uzur dan miskin kerana tanggungjawab anak lelakilebih berat dan lebih utama terhadap kedua-dua ibu bapanya.


- Bersedia menjadi penyokong kuat kepada perjuangan suaminya iaitu perjuangan yang tidak menyimpang dari garis-garis yang dibenarkan oleh Islam. Sabda Rasulullah s.a.w., Allah memberi rahmat kepada seorang isteri yang jika ia bangun malam dan solat, ia membangunkan suaminya supaya sembahyang bersamanya. Tetapi sekiranya suaminya enggan, direnjiskan air ke muka suaminya dengan penuh kasih sayang.


- Berusaha menjadi ibu yang baik, bertanggungjawab mendidik dan mengasuh anak-anaknya menjadi baik dan dapat melaksanakan hukum-hakam agama, berakhlak mulia sehingga menjadi teladan kepada orang ramai. Inilah sebahagian daripada sahsiah isteri yang seharusnya ada pada setiap wanita untuk mencapai kesempurnaan hidup berkeluarga dan mendapat keredhaan Allah yang diharapkan oleh setiap suami seperti doa Nabi Daud a.s.: ``Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kurniakanlah daku seorang isteri yang solehah, yang dapat membantuku menyelesaikan urusan duniaku dan urusan akhiratku.''
 

Challenge Me!

Promote This Blog

Visitors

...::Lukluk Baidoa::..